• Beranda
  • hukum
  • Sebelum Tewas, Yulanda Pamit ke Magelang dan Bawa Uang Rp100 Juta

Sebelum Tewas, Yulanda Pamit ke Magelang dan Bawa Uang Rp100 Juta

Senin,29 Juli 2013 | 12:27:00
Sebelum Tewas, Yulanda Pamit ke Magelang dan Bawa Uang Rp100 Juta
Ket Foto :

Jakarta - Paman Yulanda Rifan, Fardan Nawawi Arif hanya bisa pasrah saat mendapati keponakannya digiring masuk ke kamar mayat RS Bhayangkara Semarang dalam kondisi terbungkus kantung jenasah. Menurut cerita Fardan, saat keponakannya pergi, ia membawa uang tunai lebih dari Rp 100 juta.

Yulanda Rifan ditemukan tewas dan terkubur di ladang Dusun Petung, Desa Ngemplak, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang oleh tim gabungan Polres Kabupaten Magelang dan Polda Jawa Tengah tidak jauh dari rumah Muhyaro, tersangka kasus penipuan yang nekat lompat dari tebing dan menyebabkan personil Polda Jateng, AKP Yahya R Lihu gugur.

Saat pergi menuju Magelang awal Juli lalu, anak Guru Besar Undip Profesor Barda Nawawi itu membawa uang cash lebih dari Rp 100 juta. Fardan mengantakan alasan Yulanda ke Magelang untuk menagih hutang ke seseorang bernama Novan.

"Sepengetahuan keluarga, anak ini bawa cash diatas Rp 100 juta dan dia mau nagih hutang. Kalau tidak salah dengan orang bernama Novan," kata Fardan saat menunggu jenasah keponakannya di RS Bhayangkara Semarang, Sabtu (27/7/2013).

Saat meninggalkan rumah, lanjut Fardan, pihak keluarga tidak curiga. Namun saat telepon seluler korban yang merupakan dosen Arsitek Undip Semarang itu tidak bisa dihubungi, keluarga mulai khawatir dan melaporkannya ke Polisi.

"Seminggu kemudian saya sempat SMS keponakan saya pura-pura mau mentrasfer uang. Ternyata ada balasan tapi bukan bahasa keponakan saya. Tidak mungkin sim cardnya diberikan orang lain, pasti ada perampasan," ujarnya.

Tidak lama setelah dilaporkan hilang, polisi berhasil membekuk Muhyaro, tersangka penipuan dengan modus penggandaan uang. Namun saat diminta menunjukkan lokasi korban-korbannya yang hilang, Muhyaro nekat terjun ke jurang sambil menarik AKP Yahya. Keduanya jatuh hingga akhirnya tewas.

Fardan yang ditemani putrinya, Firda Novita itu meyakini kalau Muhyaro tidak bekerja sendiri. Dilihat dari luka di tubuh korban, jeratan tali di kaki, dan penguburannya, menurut Fardan hal itu tidak bisa dilakukan seorang diri.

"Saya yakin kejahatan ini terorganisir, tidak mungkin satu orang," ujarnya dilansir detik.com.

Jenasah Yulanda dan dua lainnya tiba di RS Bhayangkara Semarang pukul 21.00. Rencananya akan dilakukan Outopsi besok pagi karena belum diketahui identitas dua jenasah lainnya.

"Ini mungkin besok baru bisa mulai otopsi," kata salah satu petugas Inafis. (rep01

Baca Berita Lainnya
Tulis Komentar
Berita Terkini
Kamis,18 September 2014 - 03:43:00 WIB

Kantor Arsip Pustaka Ikuti Pameran Buku BPAD Riau

Kamis,18 September 2014 - 03:41:00 WIB

Distribusi Tabung Elpiji di Pelalawan Tersendat

Kamis,18 September 2014 - 03:39:00 WIB

20 September, BKD Pelalawan Akan Lakukan Perekrutan CPNS

Kamis,18 September 2014 - 03:38:00 WIB

Diserbu Kiriman Kabut Asap, ISPU Pelalawan Tidak Sehat

Kamis,18 September 2014 - 02:02:00 WIB

Kabut Asap, Kualitas Udara Riau Tidak Sehat

Kamis,18 September 2014 - 02:00:00 WIB

Warga Riau Diimbau Mulai Gunakan Masker

Kamis,18 September 2014 - 02:00:00 WIB

Selama 2014, Polda Riau Tangkap 233 Pembakar Hutan

Kamis,18 September 2014 - 12:55:00 WIB

Hasil Lengkap Liga Champions Kamis Dinihari

Kamis,18 September 2014 - 12:55:00 WIB

Barcelona Susah Payah Kalahkan Apoel

Kamis,18 September 2014 - 12:19:00 WIB

Pria Saudi Wajibkan iPhone 6 sebagai Mas Kawin